Rabu, 18 April 2012

Anak Berbakat (Gifted Child)


ANAK BERBAKAT (GIFTED CHILD)

Pengertian Anak Berbakat
Secara umum anak berbakat diartikan sebagai anak yang memiliki tingkatan IQ tinggi dan memiliki keterampilan tertentu. Menurut definisi yang dikemukakan Joseph Renzulli (1978), anak berbakat memiliki pengertian, “Anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.
         1.         High Potential Ability (Kecerdasan Tinggi) Standard yang ditetapkan untuk anak berbakat oleh Diknas tahun 2003 adalah 140 . Kalau hasil tes menunjukkan IQ anak mencapai 140 ke atas, maka anak itu otomatis disebut gifted child. Tetapi kemudian muncul pembagian tertentu untuk anak berbakat dilihat dari IQnya. Keberbakatan ringan (IQ 115 – 129), keberbakatan sedang (IQ 130 – 144), keberbakatan tinggi (IQ 145 ke atas).
         2.         Task Commitment adalah sejauh mana tanggung jawab dalam meyelesaikan tugas. Tidak hanya tugas dari sekolah tapi juga tugas di rumah. Task commitment dapat diukur melalui tes tertentu yang hanya boleh dilakukan oleh psikolog. Task commitment ini mencakup tanggung jawab, motivasi, keuletan, kepercayaan diri, memiliki tujuan yang jelas sebelum melakukan sesuatu dan kemandirian.
         3.         Kreativitas bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru atau kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru dari yang sudah ada. Kreativitas dapat dinilai dari 4 hal, produk, pribadi, proses dan pencetus / penghambat. Suatu produk dikatakan kreatif kalau produk itu baru, berbeda dari yang sudah ada, lebih baik dari yang lain dan tentu saja berguna. Sifat pribadi kreatif yang lain adalah terbuka pada hal-hal baru, punya rasa ingin tau yang besar, ulet, mandiri, berani mengambil resiko, berani tampil beda, percaya diri dan humoris.
Anak berbakat ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler (Swssing, 1985).
Pengertian lain menyebutkan bahwa anak gifted adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi yang dimiliki oleh anak-anak normal. Para ahli dalam bidang anak-anak gifted memiliki pandangan sama ialah keunggulan lebih bersifat bawaan dari pada manipulasi lingkungan sesudah anak dilahirkan.

Kepribadian Carl Rogers


TEORI KEPRIBADIAN CARL ROGERS

  1. BIOGRAFI
            Carl Rogers dilahirkan di Oak Park, Illionis, pada tanggal 8 Januari 1902 dan meninggal pada tahun 1987. dia anak dari pasangan Walter dan Julia. Keluarga Rogers dipandang sebagai penganut protestan konservatif. Pada tahun 1924 dia lulus dari Universitas Wisconsin dalam bidang pertanian. Pada tahun yang sama, yaitu pada tanggal 28 Agustus dia menikah dengan Helen Elliot. Mereka dikaruniai dua anak, yaitu David dan Natalie. Mulai 1924-1926 dia masuk ke Union Teologi Seminary, sebagai lembaga yang mengembangkan pandangan yang liberal dan filosofis dalam agama. Pada tahun 1928 dia menerima gelar MA di Universitas Columbia, dan gelar Ph.D. pada tahun 1931 di universitas yang sama dalam bidang psikologi pendidikan dan klinis. Selama tahun 1927-1928 Rogers memulai praktik pertamanya dalam psikologi klinis dan menjadi anggota dari Institut Bimbingan Anak.
            Rogers adalah salah seorang peletak dasar dari gerakan potensi manusia, yang menekankan perkembangan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok pertemuan, dan latihan lainnya yang ditujukan untuk membantu orang agar memiliki pribadi yang sehat. Dia membangun teorinya bedasarkan praktik interaksi terapeutik dengan para pasiennya. Karena dia menekankan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya dinamakan “person-centered theory”. Carl Rogers terkenal berkat metode terapi yang dikembangkannya, yakni tak mengarahkan (nondirective) atau terapi berpusat pada klien (client-centered therapy). Tekniknya tersebar luas dikalangan konselor pendidikan, konselor bimbingan dan pekerja social. Rogers adalah orang pertama yang melibatkan peneliti ke dalam sesi terapi (memakai tape recorder), yang pada tahun 1940-an membuka sesi klien untuk dicermati orang lain masih tabu. Dengan cara itu orang mulai belajar mengenai hakekat psikoterapi dan proses beroperasinya.

            
  1. TERPUSAT PADA PRIBADI
Pendekatan fenomeologi dari Rogers konsisten menekankan pandangan bahwa tingkah laku manusia hanya dapat dipahami dari bagaimana dia memandang realita secara subyektif (subjective experience of reality). Pendekatan ini juga berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri, bahwa hakekat yang terdalam dari manusia adalah sifatnya yang bertujuan, dapat dipercaya dan mengejar kesempurnaan diri (purposive, trusthworthy, self-perfecting). Rogers sangat kuat memegangi asumsinya, bahwa manusia itu bebas, rasional, utuh, mudah berubah, subyektif, proaktif, hetrostastis, dan sukar dipahami. Karena itu unsur-unsur konstitusi kurang mendapat perhatian.

Rogers mengemukakan 19 rumusan mengenai hakikat pribadi sebagai berikut:
1. Organisme berada dalam dunia pengalaman yang terus menerus berubah, dimana dia    menjadi titik pusatnya,
2. Organisme menanggapi dunia sesuai dengan persepsinya.
3. Organisme mempunyai kecenderungan pokok yakni keinginan unutk mengaktualisasi diri, memelihara, meningkatkan diri (self actualization-maintain-enhance).
4. Organisme mereaksi medan fenomena secara total.
5. Pada dasarnya tingkah laku merupakan usaha yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan mengaktualisasi diri-mempertahankan-memperluas diri, dalam medan fenomenanya.
6. Emosi akan menyertai tingkah laku yang berarah tujuan, sehingga intensitas (kekuatan) emosi tergantung kepada pengamatan subyektif seberapa penting tingkah laku itu dalam rangka aktualisasi diri-memelihara-mengembangkan diri.
7. Jalan terbaik untuk memahami tingkah laku seseorang adalah dengan memakai kerangka pandangan orang itu sendiri melalui (internal frame of reference); yakni persepsi , sikap dan perasaan yang dinyatakan dalam suasana yang bebas atau suasana terapi berpusat pada klien. Misalnya dalam hal ini tentang laporan diri seseorang (portofolio, riwayat hidup, dll)
8. Sebagian medan fenomeda secra berangsur akan mengalami deferensiasi, sebagai proses terbentuknya self. Self adalah kesadaran akan keberadaan dan fungsi diri, yang diperoleh melalui pengalaman dimana diri (I atau me) terlibat didalamnya baik sebagai subjek maupun obyek.
9. Struktur self terbentuk sebagai hasil interaksi organisme dengan medan fenomena, terutama interaksi evaluatif dengan orang lain. Struktur Self adalah suatu pengamatan yang bersifat uth, teratur, mudah bergerak (fluid) dan konsisten dengan gambaran I dan me dan nilai-nilai lingkungan.
10. Apa bila terjadi konflik antara nilai-nilai yang sudah dimiliki dengan nilai-nilai baru, organisme akan meredakan konflik itu dengan (1) merefisi gambaran dirinya, serta mengaburkan (distortion) yang semula ada pada dirinya, atau dengan mendistorsi nilai-nilai baru yang akan diintrojeksi/diasimilasi.
11. Pengalaman-pengalaman yang terjadi pada diri seseorang akan diproses oleh kesadaran dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda, sebagai berikut:
Disimbulkan (symbolized) diamati dan disusun dalam hubungannya dengan self,
Dikaburkan (distorted) tidak ada hubungannya dengan struktur self.
Diingkari atau diabaikan (denied atau ignore) Diingkari karena tidak konsisten dengan struktur dirinya dan diabaikan karena kesadaran tidak memperhatikan itu.
12. Umumnya tingkah lku konsisten dengan konsep self. Kalau premis ini benar, maka cara untuk merubah tingkah laku adalah adalah mengubah konsep self, sebagaimana dilakukan Rogers dalam terapinya.
13. Tingkah laku yang didorongkan oleh kebutuhan organis yang tidak dilambangkan, bisa tidak konsisten dengan self. Tingkah laku semacam itu biasanya dilakukan untuk memelihara gambaran diri (self image) dan tidak diakui sebagai milik atau bagian dari dirinya.
14. Salahsuai psikologis ( Psychological maladjusment) akibat adanya tension, terjadi apabila organisme menolak menyadari pengalaman sensorik yang tidak dapat disimbulkan dan disusun dalam kasatuan struktur-selfnya.
15. Penyesuaian psikologis (psychological adjusment) terjadi apabila organisme dapat menampung/mangtur semua pengalaman sensorik sedemikian rupa dalam hubungan yang harmonis dalam konsep diri.
16. Setiap pengalaman yang tidak sesuai dangan struktur self akan diamati sebagai ancaman (threat). Semakin kuat/rigid struktur selfnya, semakin banyak pengalaman yang dianggap ancaman karena tidak sesuai dengannya, sehingga semakin kuat pula sikap mempertahankan diri dari ancaman. Self kemudian manciptakan pertahanan diri dengan menolak pengalaman masuk kekesadaran. Semakin sering ini dipakai, self manjadi tidak salingsuai (incongruence): kehilangan hubungan dengan pengalaman nyata. Pertentangan antara self dengan realita semakin meningkatkan ketegangan psikologik yang menimbulkan salahsuai.
17. Dalam kondisi tertentu, khususnya dalam kondisi bebas dari ancaman terhadap struktur self (suasana terapi berpusat pada klien),
18. Apabila organisme mengamati dan menerima semua pengalaman-sensorik ke dalam sistem yang integral dan konsisten, maka dia akan mengerti dan menerima orang lain sebagai individu yang berbeda.
19. Semakin banyak individu mengamati dan menerima pengalaman sensorik ke dalam struktur selfnya, kemungkinan terjadi itrijeksi/revisi nilai-nilai semakin benar.

  1. Konstruk (Aspek-aspek) Kepribadian
Karena perhatian utama Rogers kepada perkembangan atau perubahan kepribadian, maka dia tidak menekankan kepada struktur kepribadian. Namun demikian, dari 19 rumusannya mengenai hakekat pribadi, diperoleh dari tiga konstruk yang menjadi dasar penting dalam teorinya: organism, medanfenomena dan self.

  1. Organisme
Yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan pengalaman ini merupakan persepsi seorang tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar (external word). Totalitas pengalaman, baik yang disadari maupun tidak disadari menbangun medan fenomenal (phenomenal field). Medan fenomena seseorang tidak diketahui oleh orang lain, kecuali melalui inferensi empatik, itu pun tidak pernah diketahui secara sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku itu bukan fungsi (pengaruh) dari realitas eksternal, atau stimulus lingkungan, tetapi realitas subjektif atau medan subjektif atau medan fenomenal.
Pengertian organisme mencakup tiga hal:
Ø  Makhluk hidup: organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologiknya. Organisme adalah tempat semua pengalaman, segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi seseorang mengenai event yang terjadi di dalam diri dan di dunia eksternal.
Ø  Realitas subyektif: Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan fakta benar-salah. Realita subyektif semacam itulah yang menentukan/membentuk tingkah laku.
Ø  Holisme: organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan dan mengembangkan diri.

  1. Medan Fenomena (Phenomenal field)
Keseluruhan pengalaman itu, baik yang internal maupun eksternal, disadari maupun yang tidak disadari dinamakan medan fenomena. Medan fenomena adalah seluruh pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya di dunia, sebagaimana persespi subyektifnya. Beberapa deskripsi berikut menjelaskan pengertian medan fenomena:
Ø  Meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri sensiri) dan pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar).
Ø  Meliputi pengalaman yang: disimbolkan (diamati dan disusun dalam kaitannya dengan diri sendiri), disimbolkan tetapi diingkari/dikaburkan (karena tidak konsisten degan struktur dirinya), dan tidak disimbolkan atau diabaikan (karena duamati tidak mempunyai hubungan dengan strutur diri). Pengalaman yang disimbolkan disadari, sedang pengalaman yang diingkari dan diabaikan tidak disadari.
Ø  Semua persepsi bersifat subjektif, benar bagi dirinya sendiri.
Ø  Medan fenomena seseorang tidak dapat diketahui oleh rang lain keuali melalui inferensi empatik, itupun pengetahuan yang diperoleh tidak bakal sempurna.

Masalah besar yang sulit dijawab dari medan fenomenologis ini adalah, bagaimana orang dapat memisahkan fakta dengan fiksi dalam medan subjektifnya? Dalam hal ini, Rogers berpendapat bahwa hanya ada satu cara untuk membedakan, yaitu mengetes realitas, atau mengecek kebenaran dari informasi, dalam mana hipotesis seseorang didasarkan pula kepada sumber informasi lainnya. Contoh sederhana tentang masalah ini : “Apabila anda merasa tidak yakin tentang botol mana yang berisi garam dari dua botol yang sama-sama berisi benda halus berwarna putih maka sebaiknya anda mencicipi (mengetes) isi /kedua botol tersebut, apabila ini salah satu botol tersebut rasanya asin, maka itulah garam.

  1. Self
Konsep pokok dari teori keprbadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan self merupakan satu-satunya struktur kepribadian yang sebenarnya. Beberapa penjelasan mengenai self dapat disimpulkan dari 19 rumusan Rogers:
Ø  Self terbentuk melalui diferensiasi medan fenomena
Ø  Self juga terbentuk melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu (significant person = orang tua) dan dari distorsi pengalaman.
Ø  Self bersifat integral dan konsisten.
Ø  Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap sebagai ancaman.
Ø  Self dapat berubah sebagi akibat kematangan biologik dan belajar.
Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan “self concept” (konsep diri). Rogers mengartikannya sebagai “persepsi tentang karakteristik ‘I’ atau ‘me’ dan persepsi tentang hubungan ‘I’ atau ‘me’ dengan orang lain atau berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut”.
            Ada tiga tingkatan simbolisasi atau kesadaran:
            1.Suatu peristiwa dialami dibawah ambang kesadaran sehingga diabaikan atau diingkari.
            2.Suatu peristiwa dialami dengan kesadaran yang penuh disimbolkan kedalam struktur self.
            3.Suatu peristiwa dialami dalam bentuk pengaburan.

  1. Dinamika Kepribadian
1.      Penerimaan positif
            Bayi mengembangkan konsep self dengan membedakan dan kemudian menginternalisasi pengalaman eksternal yang memuaskan aktualisasi diri bawaannya.Kesadaran memiliki konsep diri kemudian mengembangkan penerimaan positif.Kebutuhan diri agar diterima dengan baik,dicintai dan diakui lingkungan.Perkembangan pengalaman menempatkan regard positif timbal balikKonsep penerimaan positif tanpa syarat dari rogers ini pada hakikatnya bertentangan dengan konsep super-ego dari Freud.Prinsip super-ego adalah konsensia(baik-buruk) dan ego ideal(performansi terbaik),yang menghadiahi dan menerima tingkah laku yang memenuhi syarat”baik” dan menghukum atau menolak tingkah laku yang”buruk”,sehingga disebut penerimaan positif bersyarat(conditional positive regard) atau syarat kebaikan (condision of worth).

2.      Konsistensi dan Salingsuai
            Menurut Rogers,organisme berfungsi untuk memelihara konsistensi.Individu mengembangkan sistem nilai,yang pusatnya adalah nilai dirinya.Individu bertingkah laku konsisiten dengan konsep selfnya.Tingkah laku itu tidak memberinya ganjaran.Apabila ada dikrepansi antara struktur self dengan pengalaman actual,orang akan merasa inkongruen.
Akibat dari diskrepansi dan inkongruen itu adalah:
            1.Kesadaran akan menimbulkan ketegangan dan kebingungan.
            2.Individu yang tidak menyadari keadaan inkongruennya rentan mengalami anxiety akibat inkongruen itu.
3.Individu tidak mengizinkan pengalaman masuk kekesadaran.
4.Individu berusaha mempertahankan konsep selfnya.
Dalam dunia subyektifnya,salingsuai(kongruen) atau ketidaksalingsuaian(inkongruen) antara self dengan organism yang menentukan kemasakan penyesuaian,dan kesehatan mental.
Perhatian Rogers adalah bagaimana inkongruen itu berkembang dan bagaimana self dan organisme dapat dibuat semakin kongruen.Juga bagaimana kongruen dapat terjadi antara realitas subyektif(medan fenomenal) dengan realitas eksternal,dan kongruen antara struktur self dengan ideal self.Jika terjadi perbedaan besar antara struktur self dengan ideal self,orang akan merasa tidak puas dan salah suai.

3.      Aktualisasi Diri
            Rogers memandang organisme terus menerus bergerak maju.Tujuan tingkah laku bukan untuk mereduksi tegangan energi tetapi mencapai aktualisasi diri.Organisme memiliki kecenderungan dasar diantaranya aktualisasi yaitu kebutuhan pemeliharaan dan peningkatan diri juga kebutuhan penerimaan diri positif  dari orang lain dan penerimaan diri positif dari orang lain.
  1. Pemeliharaan:Kebutuhan yang timbul dalam rangka memuaskan kebutuhan dasar seperti makanan,udara,keamanan serta kecenderungan untuk menolak perubahan dan mempertahankan keadaan sekarang.
  2. Peningkatan Diri:Kebutuhan untuk  berkembang,dan untuk mencapai tujuan yang diekspresikan dalam berbagai bentuk termasuk rasa ingin tahu,kegembiraan,eksplorasi diri,kemasakan dan persahabatan.
  3. Penerimaan Positif dari Orang Lain:Ketika kesadaran self muncul,bayi mulai mengembangkan kebutuhan untuk dicintai,atau  diterima oleh orang lain disekitarnya.Orang menilai tinggi pengalaman-pengalaman yang memuaskan kebutuhan penerimaan-positif.
  4. Penerimaan Positif dari Diri Sendiri:Penerimaan diri ini merupakan akibat dari pengalaman kepuasan atau frustasi dari kebutuhan penerimaan positif dari orang lain.Menurut Rogers,penerimaan diri positif mencakup perasaan kepercayaan diri dan keberhargaan diri.
Aktualisasi diri berlangsung mengikuti apa yang digariskan keturunan ketika organism itu masak,dia menjadi semakin berbeda dengan orang lain,semakin luas,otonom dan tersosialisasi.Kecenderungan aktualisasi iti akan mnunjukkan diri melalui rentangan luas tingkah laku,yakni:
 1.Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologi.
2.Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologik untuk menggerakkan organism kearah perluasan otonomi dan self-sufficiency.
3.Tingkah laku yang tidak meredakan tegangan tetapi justru meningkatkan tegangan.
      Rogers mengasumsikan bahwa pada dasarnya ada peluang semua tingkah laku mengaktualisasikan dirinya yang dapat dinilai melalui proses penilaian organisme.

  1. Perkembangan Kepribadian
            Struktur self menjadi bagian terpisah dari medan fenomena dan semakin kompleks.Self berkembang secara utuh keseluruhan,menyentuh semua bagian-bagiannya.
  1. Pribadi yang Berfungsi Utuh
            Berfungsi utuh adalah istilah yang dipakai Rogers untuk menggambarkan individu yang memakai kapasitas dan bakatnya,merealisasi potensinya dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya.Gogers memerinci 5 ciri kepribadian orang yang berfungsi sepenuhnya,sebagai berikut:
  1. Terbuka untuk mengalami:Kebalikan dari sifat bertahan.Mereka mampu mendengar dirinya sendiri tanpa merasa terancam.Mereka sadar dengan pikiran dan perasaanya dan disimbolisasi dalam kesadaran tanpa distorsi atau denial.
  2. Hidup menjadi:Kecenderungan untuk hidup sepenuhnya dan  seberisi mungkin pada setiap eksistensi.
  3. Keyakinan Organismik:Orang mengambil keputusan berdasarkan pengalaman organismiknya sendiri.Kebalikan keyakinan organismik adalah pengambilan keputusan berdasarkan sumber eksternal.
  4. Pengalaman Kebebasan:Pengalaman hidup bebas dengan cara yang didinginkan,tanpa perasaan tertekan.Rogers mengakui pengarih keturunan,kekuatan social dan pengalaman masa lalu terhadap pilihan organisme.
  5. KreatifitasKemasakan psikologik yang optimal.Orang kreatif cenderung  konstruktif dan adaptif sekaligus memuaskan kebutuhannya yang terdalam.
  1. Perkembangan Psikopatologi
            Menurut  Rogers,orang meladjusmen tidak sadar dengan perassan yang mereka ekspresikan dan berusaha menolak ekspresi yang dapat mengungkap hal itu.
Tak saling Suai
            Ketika pengalaman tidak konsisten dengan struktur self  ,tingkat kecemasan yang terjadi  dapat merusak rutinitas dan orang menjadi neurotic.Semakin besar jurang ketidaksesuaian antara konsep diri dengan pengalaman organismik,semakin orang menjadi rentan.Pengalaman inkongruen disimbolisasi kedalam kesadaran.Kondisi ini akan menimbulkan disorganisasi kepribadian dan psikopatologi.
  1. Kecemasan dan Ancaman
            Kecemasan dan ancaman muncul akibat orang yang sangat sadar dengan ketidaksesuaian itu.Rogers mendefinisi kecemasan sebagai”keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan yang sebabnya tidak diketahui”.Ketika orang semakin menyadari ketidak kongruenan antara  pengalaman dengan  persepsi dirinya,kecemasan berubah menjadi ancaman.
  1. Tingkah Laku Bertahan
            Rogers mengklasifikasi dua tingkah laku bertahan,yakni distorsi dan denial.Termasuk dalam distorsi adalah kompulsi,kompensasi,rasionalisasi,fantasi,dan projeksi.
1.Distorsi:Pengalaman diinterpretasi secara salah dalam rangka menyesuaikan dengan aspek yang ada dalam konsep self.
2.Denial:Orang menolak menyadari suatu pengalaman,agar terbebas adari ancaman ketidak kongruenan diri.



  1. Disorganisasi
            Disorganisasi adalah akibat dari ketidak kongruenan antara self dengan pengalaman.Disorganisasi kepribadian itu dapat disembuhkan atau dikoreksi dengan terapi yang memberinya penerimaan positif tanpa syarat.

  1. APLIKASI
Teknik Riset
            Rogers memakai pendekatan content analysis,rating scale dan Q-techniques.Analisis isi adalah prosedur menganalisis verbalisasi klien untuk menguji berbagai hipotesis autoproposisi mengenai hakikat kepribadian.Rating scale digunakan untuk meneliti kualiitas hubungan terapi,Q-Techniques adalah model asesmen untuk meneliti pandangan orang mengenai dirinya sendiri.
Psikoterapi
            Pendekatan berpusat klien berpendapat,agar orang yang rentan dan cemas dapat mengembangakan jiwanya,mereka harus mengadakan kkontak dengan terapis yang kongruen,dan dapat menciptakan suasana penerimaan tanpa syarat dan empati yang akurat.Jadi terapi Rogers dapat dijelaskan melalui tiga factor itu;kondisi,proses dan hasil.
Kondisi
            Syarat agar terapi dapat berlangsung:
1.Klien yang mengalami kecemasan atau kerentanan memiliki motivasi mendatangi terapis.
2.Terapis dapat menunjukkkan kepada konsep dirinya kongruen,menerima positif klien tanpa syarat,dan bersikap empatik.
3.Kontak antara klien dengan terapis berlangsung dalam waktu yang panjang.
Proses
            Prose perbaikan kepribadian dibagi dalam tujuh tahapan:
1.Tahap Pertama:Klien tidak mau mengkonunikasikan dirinya.
2.Tahap Kedua:Sikap kakunya berkurang tapi mereka membahas kejadien eksternal dan orang lain.
3.Tahap Ketiga:Klien semakin bebas membucarakan dirinya sendiri masih sebagai obyek.
4.Tahap Keempat:Klien mau berbicara tentang perasaaannya secara mendalam tetapi bukan perasaannnya sekarang.
5.Tahap Kelima:Mereka dapat mengekspresikan perasaannya saat itu.
6.Tahap Keenam:Klien bergerak mantap mendekati fungsi yang utuh atu aktualisasi diri.
7Tahap Ketujuh:Klien mencapai fungsi seutuhnya.Mereka menjadi kongruen,menerima diri positif tanpa syarat dan mampu mencintai dan bersikap empati kepada orang lain.

Jumat, 13 April 2012


METODE BIMBINGAN DAN KONSELING

A.     METODE KOGNITIF
Teori original Holland mengalami modifikasi sebagai hasil dari penelitian ulang, hal ini terbatas pada lingkungan kerja pada masyarakat Amerika (Osipow, 1983 : 83). Pada kata pengantar dalam karya tulisnya yang terakhir yaitu “Making Vocational Choices : A Theory of Vocational Personalities and Work Environments” (1985), John Holland mengatakan bahwa buku itu merupakan perumusan teorinya yang kelima sejak karya tulisnya yang pertama pada tahun 1959 (Winkel & Hastuti, 2005 : 634).
Tingkatan orientasi kepribadian individu menentukan lingkungan yang dipilihnya, semakin jelas tingkatannya, maka makin efektif pencarian lingkungan yang sesuai (Manrihu, 1992 : 71). Pengetahuan individu tentang diri dan lingkungannya diperlukan untuk menetapkan pilihan yang sesuai. Holland mengakui bahwa pandangannya berakar dalam psikologi diferensial, terutama penelitian dan pengukuran terhadap minat, dan dalam tradisi psikologi kepribadian yang mempelajari tipe-tipe kepribadian (Winkel & Hastuti, 2005 : 634).
Menurut John Holland individu tertarik pada suatu karir tertentu karena kepribadiannya dan berbagai variabel yang melatarbelakanginya. Pada dasarnya, pilihan karir merupakan ekspresi atau perluasan kepribadian ke dalam dunia kerja yang diikuti dengan pengidentifikasian terhadap stereotipe okupasional tertentu. Perbandingan antara self dengan persepsi tentang suatu okupasi dan penerimaan atau penolakannya merupakan faktor penentu utama dalam pilihan karir. Sentral bagi teori Holland adalah konsep bahwa individu memilih sebuah karir untuk memuaskan orientasi kesenangan pribadinya. Jika individu telah mengembangkan suatu orientasi yang dominat, maka akan lebih besar kemungkinan baginya mendapatkan kepuasan dalam lingkungan okupasi yang sesuai. Akan tetapi, jika dia belum dapat menentukan pilihan, maka kemungkinan mendapat kepuasan itu akan hilang. Orientasi kesenangan pribadi yang didukung oleh lingkungan kerja yang sesuai akan menentukan pilihan gaya hidup individu.
Holland berusaha menjelaskan pilihan pekerjaan dari sudut lingkungan kerja, pribadi dan perkembangannya dan interaksi pribadi dengan lingkungannya. Dikemukakan bahwa setiap individu dalam perkembangannya selalu berorientasi pada suasana pekerjaan dan orientasi ini memberi corak hidup pada diri seseorang.
Ø      Menurut Holland terdapat enam macam suasana pekerjaan, yaitu: realistik, intelektual, sosial, konvensional, artistik, enterprise.
a)      Model Realistik
Orang yang realistik menguasai lingkungan sosial dan fisiknya dengan memilih tujuan-tujuan, nilai-nilai dan tugas-tugas yang memerlukan penilaian objektif, kongkret. Aktivitas-aktivitas yang disukai : suka aktivitas yang melibatkan kecakapan gerak (motorik), benda-benda, realisme, dan bersetruktur. Aktivitas tersebut termasuk atletik, pramuka, keahlian, karya-karya ilmiah, berkelompok, menggambar mesin-mesin, bengkel, mekanik, ahli menembakbalapan (racing), berkebun.
Konsep diri : memandang dirinya sendiri seperti telah dewasa dan matang, kelaki-lakian, praktis, konvensional, gigih, tidak sosial, rendah diri, bersikap patuh alamiah (tidak memamerkan diri), senang dengan perubahan, dan memiliki jangkauan munat yang terbatas menganggap dirinya kurang memiliki kepercayaan diri, mengarang, berbicara, keaslian dan kepemimpinan.
Bakat dan kemampuan khusus : memiliki bakat yang lebih baik dalam matematika dari pada nakat verbal. Kemampuan psikomotor dan mekanis jauh melampaui bakat numerikal(angka), verbal dan persepsi.
b)      Tipe investigatif (intelektual)
Orang-orang intelektual menguasai lingkungan fisik dan sosial melalui penggunaan intelegensi. Orang-orang intelektual ditandai oleh sifat-sifat seperti analitis, rasional, berdiri sendiri, radikal, kritis, ingin tahu dan cerdas.
Aktivitas-aktivitas yang di sukai : mengagumi Curie, Darwin, Rusel, Oppenheimer dan Burbank; peranan yang di sukai sebagai pekerja yang berdiri sendiri, baik memberi ataupun menerima dukun gan, lebih suka menjadi dirinya sendiri.
Konsep diri : Memandang dirinya sendiri sebagai orang yang tidak sosial, kelaki-lakian, keras hati, mengendalikan diri, mandiri, ilmiah, intelektual, memusatkan perhatian dan pikiran kepada diri sendiri, bersikpa patuh, rendah diri, asli, tidak pamer, tidak populer.
Bakat dan kemampuan khusus : Skor yang tinggi dalam bakat matematika dan bakat verbal.
c)      Tipe Artistik
Orang artistik menguasai lingkungan sosial dan fisiknya dengan menggunakan perasaannya dan imajinasinya untuk menciptakan produk dan bentuk-bentuk seni. Pemecahan masalahnya dengan cara melibatkan ekspresi imajinasinya dan perasaannya menurut seni yang direncanakannya.
Aktivitas-aktivitas yang disukai : menyukai aktivitas-aktvitas yang bersifat kreatif, perdebatan musik, mahasiswa ilmu sosial politik, pelayanan masyarakat, fotografi.
Konsep diri : memandang dirinya sendiri sebagai orang yang tidak sosial, kewanitaan, introspektif, defresif, rendah diri, peka, berdiri sendiri, radikal, tidak stabil, naif.  Tunduk oada tekanan orang tua untuk mencapai prestasi.
Bakat dan kemampuan khusus : biasanya bakat verbal leboh tinggi di banding dengan bakat matematika. Memiliki kemampuan motorik dan persepsi yang baik yang menghasilkan keunggulan dalam bidang seni.
d)      Tipe Sosial
Orang-orang sosial menguasai lingkungannya dengan memilih tujuan, nilai-nilai dan tugas-tugas dimana ia dapat menggunakan kecakapannya demi kepentingan orang lain dalam hubungan untuk melatih dan mengubah tingkah lakunya. Sifat yang khas pada orang-orang sosial termasuk keramahtamahan, suka bergaul, kesadaran sosial, status yang kuat.
Aktivitas-aktivitas yang disukai : aktivitas-aktivitas yang disukai lebih melibatkan ekspresi estetik, sosial, dan keagamaan termasuk aktif di tempat peribadatan, pemerintahan, pelayanan masyarakat, musik membaca olahraga, mengarang, drama, sejarah, menata pertunjukan, wartawan, kepustakaan.
Konsep diri: memandang dirinya sendiri sebagai orang sosial, kebutuhan menyenangkan orang lain, riang gembira, suka bergaul, bersedia mengambil resiko, bersifat kewanitaan, tidak ilmiah, bertanggung jawab. Menilai tinggi dirinya sendiri dalam kepemimpinan, memiliki suatu citra diri yang positif.
Bakat dan kemampuan khusus :Cenderung memiliki bakat verbal yang tinggi tetapi bakat matematikanya rendah.
e)      Tipe enterprising (usaha)
Orang-orang enterprising memilih nilai-nilai, tujuan dan tugas-tugas melalui keberaniannya mengambil resiko, kebutuhan untuk menguasai orang lain, semangatnya yang besar dan kualitas yang bersifat impulsif.
Aktivitas-aktivitas yang disukai : aktivitas dimana dia dapat memenuhi kebutuhannya untuk menguasai orang lain, serta pengakuan dimana dia dapat memainkan peran kelaki-lakian. Aktivitas itu termasuk olahraga, drama, mengarang, ekonomi, bahasa asing, balapan, berenang, menulis laporan teknik, mengumpulkan sumbangan.
Konsep diri : memandang dirinya akan dapat menguasai orang lain, suka bergaul, menyenangkan, bersedia mengambil resiko, menginginkan status yang tinggi.
Bakat dan kemampuan khusus :  berprestasi dalam olahraga dan dalam persuasiif (kepemimpinan), dan kurang luas dalam bidang artistik.
f)        Tipe Konvensional
Orang-orang konvensional menguasai lingkungan fisik dan sosial dengan memilih tujuan, nilai-nilai dan tugas-tugas yang didukung oleh adat, kebiasaan masyarakat. Pendekatan terhadap masalahnya bersifat stereotip, praktis, tepat, dia kurang spontanitas dan keaslian.
Aktivitas – aktivitas yang disukai : aktivitas yang memberikan kesan yang bersifat pasif dan aktivitas yang berstruktur. Drama, musik, arimatik.
Konsep diri : memandang dirinya kelaki-lakian (suatu pertahanan), licik, berpengaruh, suka melucu, subyek ditekan pada orang tua untuk berprestasi, kebutuhan untuk menguasai orang lain, teliti, suka bergaul, kurang berprestasi, kaku, intelektual, stabil, tekun.
Bakat dan kemampuan khusus : memiliki bakat yang lebih baik dalam matematika dari pada bakat verbal.


Enam Tipe Kepribadian Berkaitan dengan Jenis Pekerjaan

Tipe Pekerjaan
Jenis Pekerjaan yang Sesuai
Tipe Kepribadian
Tipe realistik
Montir mobil, aircraft, pengontrol, pensurvei, petani, tukang listrik
Tidak suka bergaul, menyesuaikan diri, terus terang, asli, keras kepala, tidak fleksibel, nateralistik, alami (wajar), normal, gigih, praktis, rela berkorban, rendah hati, hemat, tidak pengertian, tidak sulit/rumit
Tipe investigatif (intelektual)
Ahli ilmu biologi, ahli kimia, ahli ilmu fisika, ahli antropologi, geolog, teknolog medis
Analitis, berhati-hati, kompleks, kritis, curiga, bebas, cendikiawan, yang introspektif, pesimistis, persis, masuk akal, terpesan, mengundurkan diri, yang tidak berlagak, yang tak disukai
Tipe artistik
Composer, musisi, penata panggung, penulis, interior dekorasi, aktor/akris, memiliki kemampuan artistik, seperti menulis, musik atau kesenian, tapi memiliki kelemahan clerikal skills
Koplikasi, ketidakteraturan, emosional, ekspresif, idealistik, imajinatif, kurang praktis, implusif, independen, introspektif, intuitif, nonconforming, terbuka, original, senditif
Tipe sosial
Guru, rohaniawan, konselor, psikologis, psikiater kasus kerja, terapi, harus memiliki kekurangan kemampuan mekanikan dan scient.
Berpengaruh, koperatif, empati, bersahabat, dermawan, suka menolong, idealistik, baik, sabar, persuasif, bertanggung jawab, sosial, bijaksana, pengertian, ramah
Tipe enterprising
Seles, manajer, bisnis eksekutif, prosedur televisi, promotor olahraga, pembeli, memiliki kemampuan kepemimpinan dan kemampuan berbicara tapi sering seringkali kekurangan kemampuan scient.
Serakah, suka berpetualang, menyenangkan, ambisius, menguasai, enerjik, mencari kesenangan, suka pamer, suka menarik perhatian, genit, optimis, percaya diri, sosial, pandai berbicara
Tipe konvensional
Penjaga buku, penulis steno, penulis keuangan, bankker, estimasi biaya, ahli pajak. Harus memiliki kemampuan menulis dan aritmatika, tapi memiliki kekurangan seni.
Berhati-hati, patuh, teliti, bertahan, efisien, teguh, malu-malu, sistematis, taat, rapi, gigih, praktis, sopan, tanpa imajinasi, hemat.


Beberapa pernyataan Holland
1.      Manusia dapat digolongkan sebagai satu dari enam jenis kepribadian.
2.      Ada enam lingkungan model.
3.      Manusia memiliki lingkungan yang menguntungkan baginya.
4.      Perilaku ditentukan oleh satu interaksi antara kepribadian dan lingkungan.
5.      Manusia menemukan penguatan lingkungan-lingkungan.
6.      Interaksi-interaksi yang tak sejenia merangsang perubahan di dalam perilaku manusia.
7.      Seseorang memutuskan inkongruensi mencari lingkungan yang baru atau dengan mengubah perilaku pribadi dan persepsi-persepsi.
8.      Interaksi-interaksi timbal balik antara orang dan dan pekerjaan berurutan biasanya menuju kepada satu rangkaian sukses dan kepuasan.

Holland (Manrihu, 1992 : 77-78) juga menambah tiga asumsi tentang orang-orang dan lingkungan-lingkungan, asumsi-asumsi ini adalah:
1.      Konsistensi, pada diri seseorang atau lingkungan, beberapa pasangan tipe lebih dekat hubungannya daripada yang lainnya. Misalnya, tipe-tipe realistik dan investigatif lebih banyak persamaannya daripada tipe-tipe konvensional dan artistik. Konsistensi adalah tingkat hubungan antara tipe-tipe kepribadian atau antara model-model lingkungan.Taraf-taraf konsistensi atau keterhubungan diasumsikan mempengaruhi preferens vokasional. Misalnya, orang yangpaling menyerupai tipe realistik dan paling menyerupai berikutnya dengan tipe investigatif (orang yang realistikinvestigatif) seharusnya lebih dapat diramalkan daripada orang yang realistik-sosial.
2.      Diferensiasi, beberapa orang atau lingkungan lebih dibatasi secara jelas daripada yang lainnya. Misalnya, seseorang mungkin sangat menyerupai suatu tipe dan menunjukkan sedikit kesamaan dengan tipe- tipe lainnya, atausuatu lingkungan mungkin sebagian besar didominasioleh suatu tipe tunggal. Sebaliknya, orang yang menyerupai banyak tipe atau suatu lingkungan yang bercirikan kira-kira sama dengan keenam tipe tersebut tidak terdiferensiasi atau kurang terdefinisikan. Taraf di mana seseorang atau suatu lingkungan terdefinisikan dengan baik adalah taraf diferensiasinya.
3.      Kongruensi, berbagai tipe memerlukan berbagai lingkungan. Misalnya, tipe-tipe realistik tumbuh dengan subur dalam lingkunganlingkungan realistik karena lingkungan seperti itu memberikan kesempatan-kesempatan dan menghargai kebutuhan-kebutuhan tipe realistik. Ketidakharmonisan (incongruence) terjadi bila suatu tipe hidup dalam suatu lingkungan yang menyediakan kesempatan-kesempatan dan penghargaan-penghargaan yang asing bagi preferensi-preferensi atau kemampuan-kemampuan orang itu misalnya, tipe realistik dalam suatu lingkungan sosial.

Aplikasi Teori Holland di Sekolah
Pandangan Holland sangat relevan bagi bimbingan karier dan konseling karier di institusi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah dan masa awal pendidikan tinggi (Winkel & Hastuti, 2005: 639). Tekanan yang diberikan pada pemahaman diri sehubungan dengan beberapa kualitas vokasional yang dimiliki seseorang dan pada informasi yang akurat mengenai berbagai lingkungan okupasi, menyadarkan lembaga bimbingan akan tugasnya untuk membantu orang muda mengenal diri sendiri dan mengenal ciri-ciri lingkungan, kedua hal ini sangat diperlukan sebagai masukan dalam memikirkan pilihan okupasi secara matang (Winkel & Hastuti, 2005: 639). Alat-alat yang dikembangkan oleh Holland, yaitu The Occupations Finder dan The Self-directed Search, yang menanyakan kegiatan/aktivitas yang disukai, berbagai kompetensi yang dimiliki, bidang-bidang pekerjaan yang diminati, dan evaluasi diri dalam beberapa keterampilan, harus dicocokkan dengan sistem klasifikasi okupasi yang berlandaskan pada teori yang sama, dengan demikian. orang muda dapat menemukan sejumlah alternatif pilihan okupasi untuk dipertimbangkan lebih lanjut (Winkel
& Hastuti, 2005: 639). Cara bekerja ini pada dasarnya menerapkan suatu pendekatan yang mirip dengan pendekatan Trait and Factor, namun maju lebih jauh dari pada teori Trait and Factor tradisional (Winkel & Hastuti, 2005: 639).

Konseling Perilaku


Teori Konseling perilaku (KP) berkembang tahun 1950-an hingga awal 1960-an. Pendekatan ini muncul sebagai penolakan radikal terhadap perspektif psikoanalisa yang saat itu dominan. KP menerapkan prinsip-prinsip belajar baik teori pengkondisian klasik dari Ivan Pavlov maupun pengkondisian operan dari B.F Skinner. Meski banyak menuai kritik dari ahli dan praktisi pendekatan psikoanalisa, KP berkembang dan makin banyak pengikut.
Fokus intervensi yakni pengembangan perilaku adaptif dan penurunan perilaku non adaptif didefinisikan sebagai tindakan yg dapat diamati dan diukur dan mengabaikan kognisi dan emosi sebagai determinan perilaku. Teknik KP berpengaruh dan  berkembang dalam berbagai bidang kehidupan.
Dalam perkembangannya KP menyadari adanya keterbatasan teori belajar dan mengakui peran kognisi bahkan emosi dalam mempengaruhi perilaku. Sehingga teknik kognitif diintervensikan dan membenyuk pendekatan baru yang disebut konseling kognitif-perilaku (KKP). Secara teoritik KKP menggunakan teori atau perspektif perilaku sebagai kerangka kerja dan secara teknis menggabungkan teknik pespektif perilaku dan perspektif kognitif.
Pada tahun 1980-an para teoris KP mencari horizon baru dalam konsep dan metode perlakuan pada peran emosi dalam proses terapeutik disamping faktor biologis yang menyebabkan gangguan perilaku. Dua perkembangan signifikan pada periode ini yakni makin mantabnya pendekatan kognitif perilaku sebagai kekuatan dan penerapan teknik-teknik perilaku guna mencegah dan menangani gangguan medis.
B. POKOK-POKOK TEORI

1.     Pandangan Tentang Sifat Manusia
          Pada awalnya KP memiliki asumsi yang bersifat deterministik tentang sifat dasar manusia,yakni manusia dipandang sebagai produk pengkondisian lingkungan.KP modern,khususnya yang dihembuskan oleh para ahli yang mengadopsi pendekatan kognitif-perilaku,memandang manusia tidak hanya dibentuk tetapi juga sebagai membentuk lingkungannya.Kecenderungan terakhir dalam KP diarahkan pada pengembangan prosedur yang secara aktual dapat memberikan kontrol dan keterampilan pada konseli dan respon terhadap lingkungan.
            Pandangan dari para teoris KP tradisional yang menegaskan bahwa manusia(perilaku) sangat kuat dipengaruhi oleh pengkondisian stimulus-respon atau respon-konsekuensi.Para penulis di bidang ini melihat adanya kesamaan antar paham perilaku dan paham humanistik,setidaknya dilihat dari tiga tema.tema yang pertama memusatkan perhatian pada konseling sebagai suatu pendekatan yang berorientasi pada tindakan.Tema yang kedua adalah maningkatkan perhatian konselor untuk memikirkan proses-proses kognitif dan pemaknaan subyektif yang menjembatani  efek peristiwa/stimulus pada perilaku/respon.Yang ketiga adalah meningkatkan peran konseli untuk mengambil tanggung jawab bagi perilakunya sendiri.Tiga tema konvergensi tersebut memberikan kerangka kerja konseptual yang menjembatani pendekatan perilaku humanistik.
2.     Sistem Teori

a.      Empat Perspektif
KP kontemporer dapat dipahami melalui empat perspektif bidang pengembangan berikut: perspektif pengkondisian klasik,perspekstif pengkondisian operan,perspektif teori belajar sosial,dan perspektif konseling kognitif-perilaku(classical conditioning) dikembangkan oleh Ivan Pavlov,seorang ahli dari Rusia.Berdasarkan hasil eksperimennya,Pavlov memperoleh kesimpulan teoretis bahwa perilaku,baik yang adaptif maupun tidak adaptif(misalnya kecemasan) melalui peristiwa-peristiwa traumatik,bencana alam,atau kecelakaan lainnya.dalam konstruk teori pengkondisian klasik,stimuli yang mendahului dan mengendalikan perilaku disebut sebagai antiseden(antesedent).
Teori pengkondisian operan(operan conditioning) dikembangkan oleh B.F. Skinner,seorang ahli psikologi dari Amerika.Menurut Skinner,banyak perilaku individu yang tak dapat dijelaskan melalui teori pengkondisian klasik.Oleh karena itu,skinner mengemukakan bentuk perilaku lain yang ia sebut sebagai perilaku operan,yakni perilaku yang dihasilkan oleh konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut.Perubahan perilaku yang mengikuti konsekuensi  tersebut juga disebut sebagai perilaku tergantung. Teori belajar sosial dikembangkan oleh Albert Bandura untuk mengatasi keterbatasan dalam teori-teori pengkondisian.Menurut Bandura (1977),individu seharusnya dipahami sebagai suatu fungsi psikologis yang tidak ditentukan secara tunggal oleh kekuatan intrapsikis atau oleh kekuatan lingkungan semata,tetapi sebagai hasil hubungan saling pengaruh yang terus menerus antara perilaku,kognisi dan lingkungan .perilaku dipengaruhi oleh lingkungan ,tetapi pada waktu yang sama,melalui interaksinya sehari-hari individu juga memainkan peran aktif untuk menciptakan sutu kondisi lingkungan tertentu.Inti dari teori belajar-sosial adalah bahwa individu dapat belajar perilaku dengan mengamati perilaku orang lain(model) dan proses belajar tersebut dapat berlangsung tanpa harus ada penguatan penguatan eksternal.Penguatan itu sendiri diperoleh dari perilaku dari perilaku yang dipelajari.
Perspektif kognitif-perilaku,banyak teknik KP,khususnya yang dikembangkan dalam tiga dekade terakhir,menekankan pada proses-proses kognitif yang melibatkan peristiwa-peristiwa pribadi seperti apa yang dikatakan oleh konseli pada dirinya sendiri merupakan mediator/jembatan bagi perubahan perilaku.Perspektif ini menawarkan suatu metode yang berorientasi tindakan untuk membantu individu mengubah apa yang mereka lakukan dan pikirkan.Para ahli dari perilaku kognitif memiliki keyakinan bahwa gangguan perilaku merupakan fungsi dari hubungan timbal balik antara kognisi dan faktor lingkungan.dalam pendekatan kognitif,gangguan perilaku diubah dengan cara merubah kognisi,dari tidak realistis menjadi realistis.
Para teoris kognitif memegang dua asumsi utama,yaitu;(10perilaku individu dimediatori oleh kognisi mereka:(2)defisiensi kognitif dapat menyebabkan gangguan emosional(Martin & Pearr,1983).
b.      Asumsi Dasar
Asumsi dasar yang utama  yang dipegang adalah bahwa proses-proses kognitif memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku, bahwa perilaku dikendalikan oleh interaksi yang kompleks antara peristiwa internal(termasuk keyakinan,harapan dan persepsi)dan kekuatan lingkungan(Hall,1983;Redd,Porterfield,& Andersen,1979).Berikut beberapa asumsi teoritis dari KP yang dikemukakan oleh Cormier & Cormier (1985).
· Berbagai bentuk gangguan psikologis/perilaku merupakan hasil belajar.Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang terbentuk,berkembang,dipertahankan dan diubah melalui cara-cara yang sama seperti halnya perilaku normal(adaptif)perilaku adaptif dan tidak adaptif terbentuk dan dipertahankan oleh peristiwa-peristiwa situasional eksternal atau oleh proses-proses internal seperti kognisi,mediasi dan pemecahan masalah.Asumsi ini mengimplikasikan bahwa para konselor  KP tidak akan membuang-buang waktu untuk memusatkan perhatian pada kondisi patologis atau konflik awal yang tdak terpecahkan,meskipun tidak mengabaikan adanya kemungkinan sebab fisioligis pada gangguan perilaku.
·   Gangguan psikologis atau perilaku menyimpang memiliki banyak sebab,oleh karenanya penanganannya harus multidimensional.Faktor-faktor yang yang menyebabkan masalah perilaku seringkali bersifatt jamak,melibatkan tindakan yang kasat mata,peristiwa-peristiwa lingkungan dan hubungan dengan orang lain.
· Gangguan perilaku yang akan ditangani harus ditanyakan secara spesifik atau operasional.Masalah klien dan beberapa kondisi yang mendukung masalah tersebut harus didefinisikan secara operasional.Definisi operasional menyatakan ap yang dilakukan oleh klien dalam suatu situasi khusus dan buukan merupakan inferensi dari atribut-atribut umum.Kelebihan dari memandang masalah klien dalam bentuk operasional adalah bahwa konselor dapat menterjemahkan gejala yang samar ke dalam perilaku-perilaku spesifik yang diamati.
·    gangguan perilaku terjadi dalam konteks sosial dan berhubungan secara fungsional dengan antiseden dan konsekuensi internal maupun eksternal.Antiseden adalah peristiwa-peristiwa yang mendahului perilaku,sedangkan konsekuensi adalah peristiwa-peristiwa yang mengikuti perilaku yang dipelajari.menurut pandangan kognitif-perilaku,mengubah satu bagian bentuk gangguan  berpotensi memberikan efek pada variabel-variabel perilaku yang lain,baik positif maupun negatif.Oleh karena itu konselor harus mempersiapkan dirinya terhadap dampak perilaku yang lain.
C. IMPLEMENTASI
    1. Tujuan Konseling                              
           Secara umum KP bertujuan untuk meningkatkan pilihan pribadi dan menciptakan kondisi baru yang lebih mendukung belajar. Para KP kontemporer lebih senang melibatkan konseli untuk mengambil peran aktif dalam menetapkan tujuan-tujuan perlakuan, dengan cara merumuskan apa yang diharapkannya dari proses konseling. Tujuan harus konkrit dan jelas,dan dapat diukur, dan di sepakati oleh konseli dan konselor.
             Setelah tujuan ditetapkan konselor dan konseli mendiskusikan bentuk prilaku yang dapat mengarah pada pencapaian tujuan, lingkungan yang dipersyaratkan, dan membuat rencana kegiatan secara jelas. Setelah itu konselor juga perlu membantu konseli merumuskan kontrak prilaku.
2.         Proses Konseling
              Teridentifikasi sepuluh karakteristik kunci dari KP yang mempresentasikan tahapan dalam proses konseling seperti di bawah ini :
·           KP didasarkan pada prinsip dan prosedur ilmiah.
·           KP berkenaan dengan perilaku bermasalah konseli dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada saat ini.
·           Konseli didorong untuk menerima peran aktif dengan cara melakukan tindakan-tindakan tertentu guna memecahkan masalahnya.
·           KP menekankan pada mengajar konseli keterampilan-keterampilan pengelolaan diri.
·           Memusatkan perhatian pada upaya menaksir perilaku yang dapat diamati dan tak dapat diamati.
·           KP menekankan pada pendekatan pengendalian diri dengan cara membelajarkan konseli strategi-strategi pengelolaan diri.
·           KP dirancang secara individual untuk masalah-masalah khusus yang dialami konseli.
·           Praktek KP didasarkan pada kolaborasi antara konselor dan konseli
·           KP menekankan pada penerapan praktis.
·           Konselor KP perlu berjuang untuk mengembangkan prosedur yang memperhatikan budaya tertentu.
3. Teknik Konseling         
a.  Teknik pada teori pengkondisian klasik
            Desensitisasi sistematis pada awalnya dikembangkan untuk membantu konseli menangani berbagai bentuk kecemasan. Pada perkambangan selanjutnya, digunakan untuk menangani masalah-masalah.
Pengkondisian aversif  merupakan suatu teknik yang digunakan untuk membentuk perasaan enggan atau menolak dengan menggunakan stimuli
       Latihan asertif  untuk mengeliminasi perasaan cemas yang telah terkondisi secara klasik.
c.       Teknik pada teori pengkondisian operan
       Penguatan  suatu prosedur yang dilakukan dengan cara menyajikan sesuatu yang menyenangkan mengikuti munculnya perilaku yang diharapkan.
      Hukuman  digunakan untuk mengurangi atau menghentikan perilaku yang tak diharapkan.
      Penghapusan  suatu prosedur untuk menghentikan perilaku yang tak diharapkan dengan cara tidak memberikan penguat.
     Pembentukan  suatu prosedur yang digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan frekuensi munculnya perilaku yang diharapkan
    Pengelolaan diri  untuk membantu konseli membuat perubahan dengan cara menumbuhkan kemampuan memodifikasi aspek-aspek lingkungan dan memanipulasikannya.
d.      Teknik teori kognisi sosial
     Bentuk aplikasi paling populer dari teori belajar sosial dalam bidang konseling adalah penggunaan teknik pemodelan dengan berbagai variasi untuk tujuan membentuk dan mengubah perilaku. Pemodalan dapat dilakukan secara langsung,simbolik, dan tertutup. Penggabungan dari tiga prosedur pemodelan tersebut ke dalam satu prosedur kombinatif disebut dengan multiple modeling.
e.       Teknik teori pendekatan kognitif
    Penghentian pikiran  dugunakan untuk membantu konseli mengendalikan kesan-kesan dan pikiran negatif.
    Restrukturisasi kognitif  memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah kesalahan kognisi konseli tentang diri dan lingkungannya.
    Suntikan stres  untuk membantu konseli yang memiliki phobia akut dan untuk mengelola kecemasan dalam situasi yang sangat menekan.
    Teknik pengajaran diri  untuk berdialog dengan diri sendiri tentang apa yang harus dilakukan dalam berbagai macam situasi.
    Pemecahan masalah  untuk membantu individu mengembangkan pola-pola perilaku adaptif dalam menangani berbagai macam problema.
D.  APLIKASI
Dalam penggunaannya KP dan Modifikasi perilaku sedikit berbeda, modifikasi perilaku merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan asesmen, evaluasi, dan pengubahan perilaku yang memusatkan perhatian pada pengembangan perilaku prososial dan perilaku adaptif dan menurunkan perilaku maladaptif dalam kehidupan sehari-hari.  Sedangkan KP merupakan suatu pendekatan klinis yang dapat digunakan dalam berbagai macam latar dan kelompok populasi. Contohnya seperti kecemasan, depresi, kecanduan obat, gangguan  makan, penyimpangan seksual, dan hipertensi dapat ditangani dengan efektif oleh KP. KP telah diterapkan dalam bidang pendidikan (sekolah), bisnis, panti-panti rehabilitasi, dll. KP juga dapat digunakan sebagai suatu pendekatan yang efektif dalam konseling individual, konseling kelompok, dan konseling keluarga.
Saat ini KP digunakan sebagai modalitas perlakuan untuk menangani berbagai macam gangguan mental dan kesulitan emosional di berbagai macam lingkungan (setting) perlakuan. Karena sifatnya fleksibilitas , KP dapat digunakan untuk semua kelompok populasi tanpa memperhatikan usia, latar belakang, tingkat kecerdasan, motivasi atau masalah klien. KP juga merupakan strategi untuk menangani berbagai bentuk kebiasaan maladaptif atau disfungsional seperti depresi, dan kecemasan.